Kenangan ku dan Joe
Cerpen ini gue buat sekitar kelas 3 SMP atau kelas 1 SMA. udah lama banget dan gue jarang pake judul kalau bikin cerpen, sempet bingung mau ngasih judul apa ketika cerpen ini mau di post. selamat membaca ;)
Kau tau, aku sangat merindukanmu. Aku ingat saat minggu lalu kau menelponku dan mengatakan kau rindu aku marah-marahi. Aku juga rindu saat kita bertengkar. Aku yang malah tertawa melihat wajahmu merah menahan marah. Aku tau kau benc i itu, tapi aku geli melihat alismu terangkat dan matamu mulai membundar. Kadang saat kau sedihpun aku tertawa, entahlah aku memang tak tahan kalau melihat orang marah atau sedih, bagiku raut wajah mereka lucu saat marah atau sedih Kau tau? Aku merindukan masa-masa SMP kita dulu. Aku rindu kita pulang-pergi sekolah bersama menyusuri jalan raya. Gelak tawa selalu mewarnai jalan kaki kita setiap pagi. Meski kau selalu mengeluh karena kau menungguku mandi. Aku yang selalu bangun kesiangan, saat aku bangun kau sudah di depan mataku memakai baju putih-biru khas SMP. Aku ingat Kau paling repot kalau ada tugas makalah. Aku suka melejekmu karena kau gaptek, aku sudah mengajarimu tentang komputer. Dasar saja kau yang tak pernah memperhatikan!! Dasar bodoh Kau ingat? Kau juga suka menganggapku bodoh karena saat kau katakan bahwa kau punya selingkuhan aku hanya mengucapkan satu kata ‘OH’ “Hanya itu reaksimu?” Tanyamu tak percaya. Dasar, kau seperti baru mengenalku 1-2 tahun saja. Kau mengenalmu lebih dari 12 tahun, masa kau tak juga paham tentang sifatku “Lantas aku harus bagaimana? Bilang wowowowooowow gitu?” jawabku dengan nada bercanda “Kau tak cemburu, apa kau sudah tak mencintaiku lagi?” sorot matamu mulai sendu, nada bicaramu terdengar sangat serius. “aku tau aku tak memberi perhatian lebih padamu, kau ingin di perhatikan lebih kan?” tanyaku, kau mengangguk “Nah, bila kau mendapatkannya dari selingkuhanmu itu ya tidak apa-apa” lanjutku “Tapi Ci....” “Sudahlah, ini hanya pacaran bukan perkawinan” kataku diselingi dengan tawa usil. Kemudian kau berlalu pergi “Hey... ayolah jangan dibawa serius” kataku menghentikan langkahmu “Jangan dibawa serius katamu? Jadi selama ini kau tidak pernah serius dengan hubungan kita?” tanyamu setengah membentak, aku sudah terbiasa dengan bentakanmu jadi aku enjoy saja menanggapinya. “Joe, lihat mataku...” kau pun menatap mataku tajam “bagaimana, kau menemukannya (cinta)?” Tanpa basa-basi kau memelukku erat, kemudian aku melepaskannya dan menamparmu. Kita tertawa. *** Joe, bisakah kita sejenak saja menyempatkan diri untuk bertemu? Senin sampai sabtu sekolah, Minggu aku ada Latihan taekwondo dan kau juga selalu latihan band bersama teman-temanmu. Kita ini tetangga, jarak rumah kita hanya lima meter. Tapi sudah beberapa bulan terakhir ini setelah beberapa bulan terakhir ini semenjak kita SMA kau dan aku jarang sekali bertemu. Walaupun bertemu kita seperi saling menghindar, entah mengapa bila aku melihatmu ada satu kesakitan yang menghujam jantungku. Jadi aku menghindari bertemu denganmu. Dan di saat yang lain aku merindukanmu, merindukan gelak tawamu, merindukan aroma tubuhmu yang ku rasa kau tak pernah mandi Joe! Aku menatap handphone ku, aku sangat merindukanmu. Jadi aku pasaang saja fotomu jadi wallpaperku. Andai kau tau aku selalu menangis sejak kita putus. Aku tak akan lupa, tak akan pernah bisa tentang apa yang harus memisahkan kita. Katamu hubungan kita tak bisa diteruskan karena takut mengganggu pelajaran di sekolah kita yang baru. Ku rasa alasanmu tak masuk akal. Bila tak hubungan kita ini mengganggu mengapa tak kau akhiri saja dari SMP dulu. Aku tak merasa terganggu karena ini, buktinya aku berhasil menyabet juara umum walaupun itu ke 6. Dan kau, aku tau kau tak masuk 10 besar juara umum namun nem mu waktu itu cukup tinggi Satu semester berselang aku menagih janjimu katanya kau ingin menjadi juara kelas, makanya kau selalu menolak tiap aku ajak pergi. Kau selalu menghabiskan waktumu dengan belajar. Memang perubahan yang sangat drastis kau rajin belajar seperti ini. Coba lihat waktu kau SMP kau tak pernah sedikitpun mengurusi pelajaran, kau selalu melimpahkan PR-PR mu padaku. Dan aku terkesima setelah melihat rapormu, kau berhasil juara kelas walaupun itu jura ke dua. Aku memberimu semangat. Dan yang tak habis fikir kau mengatakan ini “Tuh kan, aku tanpamu lebih baik. Jadi aku tak ingin bersamamu lagi” “tapi kita masih bisa berteman bukan” tanyaku sendu, kau menggeleng dan berlalu pergi Mungkin kau tahu aku bukan tipe orang yang cengeng dan mudah menangis, tapi aku terluka sangat terluka saat kau mengatakan itu. Aku dan kamu sudah bersama selama 12 tahun lebih walaupun dua tahun terakhir hubungan kita special. Oh iya aku hampir lupa, hari ini SMP tercintaku sedang mengadakan perpisahan. Walaupun aku tak lagi belajar disana tapi aku ingin bersilaturahmi denganguru-guru disana. Aku akan segera bersiap ** Pukul 10.12 aku tiba di SMP ini, tak kusangka disana ada kau Joe. Kau berdiri dibelakang tempat dudukku, beberapa kali aku mencuri pandang padamu. Sesekali kita beradu pandang sejenak dan berlalu lagi. Beberapa teman alumni SMP angkatanku juga banyak yang datang kesini. Karena acaranya belum mulai dan disana tuan yang terhormat sedang berpidato aku memilih untuk ke tangga yang menghubungkan kelas 9C ruang kelasku dulu dan 9E ruang kelasmu. Kita selalu duduk disana saat istirahat, ngobrol ngaler-ngidul. Apapun kita bicarakan sampai hal yang tak penting sekalipun. Bagiku bersama denganmu tak pernah membuatku bosan. Gaya bicaramu yang lumayan cepat seperti tukang obat selalu membuatku rindu. Joe, andai kau duduk disini bersamaku. “Nci... lagi ngapain disini?” tanyamu tiba-tiba, aku tersentak! Apa kau punya kekuatan telepati Joe? Bagaimana kau bisa tau aku memanggilmu dalam kabu? “Nci.. gue duluan yah temen-temen udah pada nungguin gue nih, Bye!” belum sempat aku menjawabnya kau malah berlalu pergi. Taukah kau Joe? Di tegur seperti itu pun aku sangat senang, karena kupikir kau tak akan pernah mengenalku lagi Menit-menit selanjutnya aku habiskan dengan membuka twitter di hapeku. Walaupun acara sudah ada di bagian hiburan amun aku sama sekali tak terhibur. Aku ingin engkau Joe, aku ingin kau berada disampingku lagi. Dari jauh aku mulai mendengar suaramu tertawa, oh Tuhan betapa menggilanya aku karena merindukan dia. Kemudian suara itu semakin dekat, aku menoleh ke arah suara semoga itu kau Joe bukan hanya imajinasi ku. Dan benar saja saat ku lihat kau dan segerombolan temanmu sedang berjalan mengarah padaku, jantungku berdegup lebih kencang aku tau kau takan menemuiku dengan segerombolan temanmu itu kau mungkin hanya lewat saja. Tapi ternyata tidak. Kau malah duduk-duduk dengan mereka di bawah tangga. Sesekali aku menangkap bola matamu yang mengarah padaku. Ah, Joe.. kau masih seperti dulu masih
Joe
Kau tau, aku sangat merindukanmu. Aku ingat saat minggu lalu kau menelponku dan mengatakan kau rindu aku marah-marahi. Aku juga rindu saat kita bertengkar. Aku yang malah tertawa melihat wajahmu merah menahan marah. Aku tau kau benc i itu, tapi aku geli melihat alismu terangkat dan matamu mulai membundar. Kadang saat kau sedihpun aku tertawa, entahlah aku memang tak tahan kalau melihat orang marah atau sedih, bagiku raut wajah mereka lucu saat marah atau sedih Kau tau? Aku merindukan masa-masa SMP kita dulu. Aku rindu kita pulang-pergi sekolah bersama menyusuri jalan raya. Gelak tawa selalu mewarnai jalan kaki kita setiap pagi. Meski kau selalu mengeluh karena kau menungguku mandi. Aku yang selalu bangun kesiangan, saat aku bangun kau sudah di depan mataku memakai baju putih-biru khas SMP. Aku ingat Kau paling repot kalau ada tugas makalah. Aku suka melejekmu karena kau gaptek, aku sudah mengajarimu tentang komputer. Dasar saja kau yang tak pernah memperhatikan!! Dasar bodoh Kau ingat? Kau juga suka menganggapku bodoh karena saat kau katakan bahwa kau punya selingkuhan aku hanya mengucapkan satu kata ‘OH’ “Hanya itu reaksimu?” Tanyamu tak percaya. Dasar, kau seperti baru mengenalku 1-2 tahun saja. Kau mengenalmu lebih dari 12 tahun, masa kau tak juga paham tentang sifatku “Lantas aku harus bagaimana? Bilang wowowowooowow gitu?” jawabku dengan nada bercanda “Kau tak cemburu, apa kau sudah tak mencintaiku lagi?” sorot matamu mulai sendu, nada bicaramu terdengar sangat serius. “aku tau aku tak memberi perhatian lebih padamu, kau ingin di perhatikan lebih kan?” tanyaku, kau mengangguk “Nah, bila kau mendapatkannya dari selingkuhanmu itu ya tidak apa-apa” lanjutku “Tapi Ci....” “Sudahlah, ini hanya pacaran bukan perkawinan” kataku diselingi dengan tawa usil. Kemudian kau berlalu pergi “Hey... ayolah jangan dibawa serius” kataku menghentikan langkahmu “Jangan dibawa serius katamu? Jadi selama ini kau tidak pernah serius dengan hubungan kita?” tanyamu setengah membentak, aku sudah terbiasa dengan bentakanmu jadi aku enjoy saja menanggapinya. “Joe, lihat mataku...” kau pun menatap mataku tajam “bagaimana, kau menemukannya (cinta)?” Tanpa basa-basi kau memelukku erat, kemudian aku melepaskannya dan menamparmu. Kita tertawa. *** Joe, bisakah kita sejenak saja menyempatkan diri untuk bertemu? Senin sampai sabtu sekolah, Minggu aku ada Latihan taekwondo dan kau juga selalu latihan band bersama teman-temanmu. Kita ini tetangga, jarak rumah kita hanya lima meter. Tapi sudah beberapa bulan terakhir ini setelah beberapa bulan terakhir ini semenjak kita SMA kau dan aku jarang sekali bertemu. Walaupun bertemu kita seperi saling menghindar, entah mengapa bila aku melihatmu ada satu kesakitan yang menghujam jantungku. Jadi aku menghindari bertemu denganmu. Dan di saat yang lain aku merindukanmu, merindukan gelak tawamu, merindukan aroma tubuhmu yang ku rasa kau tak pernah mandi Joe! Aku menatap handphone ku, aku sangat merindukanmu. Jadi aku pasaang saja fotomu jadi wallpaperku. Andai kau tau aku selalu menangis sejak kita putus. Aku tak akan lupa, tak akan pernah bisa tentang apa yang harus memisahkan kita. Katamu hubungan kita tak bisa diteruskan karena takut mengganggu pelajaran di sekolah kita yang baru. Ku rasa alasanmu tak masuk akal. Bila tak hubungan kita ini mengganggu mengapa tak kau akhiri saja dari SMP dulu. Aku tak merasa terganggu karena ini, buktinya aku berhasil menyabet juara umum walaupun itu ke 6. Dan kau, aku tau kau tak masuk 10 besar juara umum namun nem mu waktu itu cukup tinggi Satu semester berselang aku menagih janjimu katanya kau ingin menjadi juara kelas, makanya kau selalu menolak tiap aku ajak pergi. Kau selalu menghabiskan waktumu dengan belajar. Memang perubahan yang sangat drastis kau rajin belajar seperti ini. Coba lihat waktu kau SMP kau tak pernah sedikitpun mengurusi pelajaran, kau selalu melimpahkan PR-PR mu padaku. Dan aku terkesima setelah melihat rapormu, kau berhasil juara kelas walaupun itu jura ke dua. Aku memberimu semangat. Dan yang tak habis fikir kau mengatakan ini “Tuh kan, aku tanpamu lebih baik. Jadi aku tak ingin bersamamu lagi” “tapi kita masih bisa berteman bukan” tanyaku sendu, kau menggeleng dan berlalu pergi Mungkin kau tahu aku bukan tipe orang yang cengeng dan mudah menangis, tapi aku terluka sangat terluka saat kau mengatakan itu. Aku dan kamu sudah bersama selama 12 tahun lebih walaupun dua tahun terakhir hubungan kita special. Oh iya aku hampir lupa, hari ini SMP tercintaku sedang mengadakan perpisahan. Walaupun aku tak lagi belajar disana tapi aku ingin bersilaturahmi denganguru-guru disana. Aku akan segera bersiap ** Pukul 10.12 aku tiba di SMP ini, tak kusangka disana ada kau Joe. Kau berdiri dibelakang tempat dudukku, beberapa kali aku mencuri pandang padamu. Sesekali kita beradu pandang sejenak dan berlalu lagi. Beberapa teman alumni SMP angkatanku juga banyak yang datang kesini. Karena acaranya belum mulai dan disana tuan yang terhormat sedang berpidato aku memilih untuk ke tangga yang menghubungkan kelas 9C ruang kelasku dulu dan 9E ruang kelasmu. Kita selalu duduk disana saat istirahat, ngobrol ngaler-ngidul. Apapun kita bicarakan sampai hal yang tak penting sekalipun. Bagiku bersama denganmu tak pernah membuatku bosan. Gaya bicaramu yang lumayan cepat seperti tukang obat selalu membuatku rindu. Joe, andai kau duduk disini bersamaku. “Nci... lagi ngapain disini?” tanyamu tiba-tiba, aku tersentak! Apa kau punya kekuatan telepati Joe? Bagaimana kau bisa tau aku memanggilmu dalam kabu? “Nci.. gue duluan yah temen-temen udah pada nungguin gue nih, Bye!” belum sempat aku menjawabnya kau malah berlalu pergi. Taukah kau Joe? Di tegur seperti itu pun aku sangat senang, karena kupikir kau tak akan pernah mengenalku lagi Menit-menit selanjutnya aku habiskan dengan membuka twitter di hapeku. Walaupun acara sudah ada di bagian hiburan amun aku sama sekali tak terhibur. Aku ingin engkau Joe, aku ingin kau berada disampingku lagi. Dari jauh aku mulai mendengar suaramu tertawa, oh Tuhan betapa menggilanya aku karena merindukan dia. Kemudian suara itu semakin dekat, aku menoleh ke arah suara semoga itu kau Joe bukan hanya imajinasi ku. Dan benar saja saat ku lihat kau dan segerombolan temanmu sedang berjalan mengarah padaku, jantungku berdegup lebih kencang aku tau kau takan menemuiku dengan segerombolan temanmu itu kau mungkin hanya lewat saja. Tapi ternyata tidak. Kau malah duduk-duduk dengan mereka di bawah tangga. Sesekali aku menangkap bola matamu yang mengarah padaku. Ah, Joe.. kau masih seperti dulu masih
Komentar
Posting Komentar