Cerpen: di bawah kaki senja
Cerpen ini di buat waktu gue kelas 1 SMA, ada beberapa yang diadopsi dari kisah nyata. namun 90% fiksi.
Di bawah kaki senja
Di bawah langit-langit sekolah kelas X-A gadis itu masih setia
bertengger diatas bangku kelas yang sejak tadi pagi ia duduki.Matanya berkaca-kaca,
pipinya yang tirus basah, bibir mungilnya bergetar menahan keluarnya suara
isakan. Aku serasa tertanam di lantai teras kelas. Prihatin, tentu saja aku
merasa seperti itu melihat Sherli dipojok kelas tapi jam mungil dipergelangan
tanganku menunjukan pukul 05.42 akan dimarahi Bunda bila pulang terlambat
lagi. Dengan modal nekat akan dimarahi
Bunda dan dengan rasa sangat ragu dan perasaan takut menganggu ritual Sherli
akupun melangkah kecil menuju pojok kelas.
“Sher.... kamu gak apa-apa kan?” aku mencoba membuka percakapan
Oh God! Kenapa aku
menanyakan seperti itu padahal Sherli kelihatan ada apa-apa.
“Kamu kenapa Sher?” Tanyaku kedua kalinya. Namun kedua bibir Sherli tak
kunjung terbuka
“Apa karena kejadian tadi?” Tanyaku lagi menatap mata Sherli sayu. Ia
hanya mengangguk
“Sudahlah, kamu cengeng banget sih. Nanti juga guru itu sembuh sendiri
dan akan kembali mengajar kita lagi”
“Segitu yakinnya kamu Vik? Kamu tau gimana perasaan mereka saat mereka
kecewa pada kita? Pada perkataan dan tingkah laku kita?” aku terdiam. Ucapan
Sherli menyekakku.
“mereka sampai bergadang
tidak istirahat untuk menyiapkan materi yang akan mereka bahas yang esok
harinya mereka sampaikan pada kita. Apa kamu tega Vik?” Sherli menimpali
diiringi isakan
“Mereka kan di gaji Sher, resiko mereka lah! Ngapain kita mikirin?”
jawabku sekenanya
“gak semua guru begitu Vik, sekarang kamu bayangkan mereka saja yang
ikhlas tak karena uang. Bayangkan mereka yang datang dari tempat yang sangat
jauh dari sekolah. Bisa kamu bayangkan perjuangan mereka sampai kemari?
bagaimana bila ditengah perjalanan ada kejadian yang tak diinginkan?” Ucapan
Sherli kali ini benar-benar membuatku terpaku.
“Dan satu lagi, bagaimana rasanya di acuhkan? Sakit bukan?” Kata Sherli
sambil berlalu. Kuantarkan ia dengan pandanganku sampai hilang terhalang pintu
kelas.
Kini hanya aku dan tas hijauku di kelas ini. Aku mencoba merenungi
perkataan Sherli tadi, mencernanya dengan baik.
“Non Vikra... Gerbang sekolah hendak ditutup” Pak Satpam membuyarkan
lamunanku yang baru berdurasi beberapa menit
“Iya Pak...” aku menciptakan senyum seindah mungkin menyembunyikan air
wajahku yang galau. Motor matic pemberian Ayah ku lajukan perlahan menyusuri
senja menuju rumah.
***i
TIME IS MONEY
Berpuluh-puluh kali aku membaca tulisan itu yang terpampang sangat
besar di dinding kelas yang berhadapan dikelasku. Menunggu guru biologi keluar
dari kelas. Aku tak diizinkan masuk karena terlambat 20 menit untung saja Mang
Ujang penjaga gerbang merelakanku masuk. Ini semua karena bus yang aku tumpangi
terjebak macet. Oh damn! Pasti di akhir semester huruf ‘a’ bertengger manis di
rapot bagian kehadiranku.
“Baiklah anak-anak sekian dari saya. Semoga pelajaran kita kali ini
bisa dimengerti” Pak Marcel keluar dari kelas. Aku tersenyum manis namun beliau
hanya memandangku sesaat tanpa membalas senyumku dan segera berlalu. Aku
menarik nafas panjang
“Huuuuuu.... kemana neng ketiduran ya?” Febriansyah KM kelas
menyorakkiku dan disambut tawa teman-teman lainnya.
Aku yang tak mau ambil pusing melambai-lambaikan tangan bak Ms.
Indonesia yang berjalan di atas karpet merah karena kemenangannya.
“Ih Narsis gila kamu Vik!” Kata Ayu menyambut kedatanganku di belakang
bangkunya
“iii....”
“Tumben kamu telat” Fany menimpali dan memotong kalimatku
“ga......”
“pasti gara-gara kemarin kamu pulang telat dan Bunda mu tak mengizinkan
kamu bawa motor kesekolah lagi ya?” Sherli menimpali lagi tak membiarkanku
mengeluarkan argumentasi dari pertanyaan Fany tadi
“aaa.....”
“Selamat pagi anak-anak” kali ini guru bahasa inggris yang tak
merelakanku berbicara. Pelajaran kedua segera dimulai. Fany, Ayu dan Sherli
tertawa kecil melihat kekonyolanku tak bisa berkata.
Tau tidak, itu rasanya seperti apa ya..... seperti... seperti.. ya
seperti kita mau bicara tapi selalu saja ada yang tak menginginkannya.
***i
Aah, rasanya bila perut terisi. Seperti kata Ehsan di film upin-ipin. “bila kenyang hatipun senang” aku masih menganut
apa yang dicetuskan Drs. Prof Ehsan
“Mana si mata empat?” Tanyaku pada Fany dan Ayu yang sejak waktu
istirahat tadi bersamaku
“Mata empat?” Fany mengulang ucapanku penasaran
“Maksud kamu Sherli?” Ayu menimpali
“Yups! Kemana itu anak sudah satu minggu ini tidak keluar pada saat jam
istirahat?”
“tidak punya uang mungkin” Tebak Ayu. Fany mengangguk keras menyetujui
pendapat Ayu
Kami bertiga duduk di tepi koridor kelas.
Mataku menerawang kesetiap jengkal lingkungan sekolah. Pandanganku tiba-tiba
berhenti pada sosok seorang lelaki dan seorang gadis yang menarik-narik
lengannya masuk keruang guru. Kupandangi lekat-lekat kudua sosok itu. Ternyata
Sherli dan Febriansyah sang KM. Mau apa mereka kesana? Apa Sherli hamil oleh
Febri dan ia tak mau tanggung jawab lalu akan mengajukannya ke kepla sekolah?
Ah konyol! Aku hapus fikiran itu yang negatifnya tingkat Ujian Nasional Kelas
tiga SMP.
“Mau kemana Vik??” Tanya Fany ketika aku hendak melangkah
“Kemana kek kemana kaya orang gitu” jawabku sekenanya
“Kemana.. Kemana... Kemana....” Penyanyi dangdut Ayu Sinting
menyanyikannya
“Eh, ada apa ini? Kok narik-narik tangan Febri?” Tanyaku menghampiri
Sherli dan Febriansyah. Spontan menghentikan pertunjukan yang mereka lakukan
tujuh menit terakhir.
“Tau nih si Sherli” Febri melepaskan genggaman tangan Sherli “Dia
mengajak aku meminta maaf pada guru biologi” Febri mengelus-elus tangannya yang
memerah.
“Ya ampun. Emang kenapa lagi sih? Perasaan kelas kita itu unggulan tapi
kenapa selalu bermasalah dengan guru?” Kataku sok tua
“Si Ayu sama Fany bikin ulah lagi. Untung saja tadi pelajaran pertama
kamu tak ada Vik. Kalau ada pasti tambah seru!”
“Febri...!!” kata Sherli geram “Apalagi kalau ada kamu Vik, semakin
gaduh kelas”
“Memangnya apa yang dilakukan Fany dan Ayu?”
“Ya.. begitulah seperti biasa mereka selalu menimpali kata-kata guru
bila sedang dinasehati”
“Oh... lantas mengapa kalian tak segera minta maaf?” kataku lagi sok
‘iye’
“ini nih si KM tidak bertanggung jawab” jawab Sherli. Fikiranku
langsung mengarah pada fikiran negatif Tingkat Ujian Nasional Kelas tiga SMP
tadi. Namun segera ku buang jauh-jauh lagi suudzon yang konyol itu.
Aku lari ketika Sherli dan Febri menginjakan kaki di atas lantai ruang
guru. Aku dan kedua temanku memang sering berbuat ulah dengan guru dari SMP
dulu. Jadi aku tak ingin masuk keruang guru karena aku belum menjalankan
tugasku yang ke 99 membersihkan ruang guru. Karena ketahuan sms-an dengan teman
lelaki ku.
“Berani amat kamu Vik menampakan wajah kamu ke ruang guru lagi. Guru
Matematika itu tak menyuhmu menyapu dan mengepel ruang guru lagi kah?” kata
Fany dengan gaya bicara khas upin-ipin itu
“Iya aku lupa. Makanya aku langsung lari kesini” jawabku setengah
ngos-ngosan
“gurunya tidak menyuruhmu lagi ya? Apa dia tidak ingat?”
“Ku rasa begitu. Beliau kan jatuh sakit selama satu minggu lamanya. Aku
sujud syukur sekali pokoknya!” kataku berekspresi seperti seorang juara lomba
makan cabai
“Hush... jangan gitu kamu Vik. Guru sakit malah disyukurin bukannya
didoakan supaya bisa cepat sembuh dan mengajar kita lagi. Supaya kita gak
ketinggalan jauh pelajaran” kata Sherli datang dan mendengar apa yang ku
katakan
“Iya.. Iya.. bu Ustadz” kata kami serempak melirik mata Sherli usil
***i
Lagi, gadis itu masih belum beranjak dari tempat duduknya. Tapi kali
ini bukan di ruang kelas melainkan di taman sekolah. Di jingga kaki langit ia
melepaskan air matanya. Mengangkat apa yang ia derita di hatinya yang selalu
berkecimpung. Aku nekat mendekatinya lagi walaupun nantinya Bunda akan marah
besar.
“Sher....” kataku mendaratkan rok sekolahku dibangku yag berada
bersampingan dengan Sherli
“Yah... kamu nangis lagi” sambungku ketika melihat air matanya
membanjiri pipi tirusnyaa
“Ada apa Vik?” tanyanya
“Hey, seharusnya kalimat itu aku yang melontarkannya. Ada apa Sher?”
protesku
“Kau tau lah....” jawabnya lesu
“Menyesali apa yang dilakukan kelas X-A tehadap guru?” aku menebak
Sherli hanya mengangguk.
“Aku tau kamu orang yang perhatian pada lingkungan disekelilingmu, tapi
sudahlah jangan seperti ini. Berlarut-larut dalam kesedihan yang menyiksa
dirimu”
“Kamu tak mengerti Vik”
“Tak mengerti bagaimana?” Tanyaku heran “baiklah aku akui bahwasannya
aku tak sepandai kamu Sher. Jadi maaf kalau aku jadi orang yang sok tau”
“bukan begitu maksudku, tapi.....” Sherli tak melanjutkan kalimatnya
Aku masih menyimak mengharapkan kelajutan dari bibir yang yang pernah
dipoles lipgloss itu
“Sudahlahh, nanti juga kamu akan mengerti pada waktunya” Sherli
lagi-lagi meninggalkanku tanpa pamit.
***i
“Jadi benar-benar tak ada satupun yang mengerjakan PR Kimia?” kami
tertunduk mendengar guru kimia kami sedang mengutarakan kekecewaanya
“Sher, mana tugas punya kamu?” Tanyaku pada teman sebangkuku
Sherli mennggeleng, pertanda ia pun tak mengerjakannya.
“Tumben, biasanya kamu paling rajin” kataku menimpali.
Sherli semakin menunduk kaku
ketika sang guru pergi meninggalkan kelas membawa kekecewaanya.
“Woy guys, apakah kalian benar-benar tak mengerjakan?” kataku setelah
guru tadi melangkah cukup jauh.
Semuanya menggeleng.
Semuanya tak ada yang mengerjakan memang keterlaluan. Bahkan Sherlipun yang
biasanya sangat rajin mengerjakan tugas juga sama. Bertanya pada diri sendiri.
mengapa? Aku terlalu bergantung pada Sherli bila berurusan dengan ‘Kimia’. Tapi
tidak dengan mata pelajaran yang lain. Aku mash heran pada Sherli yang berubah
“Sher.. kamu kenapa tak
mengerjakan tugas? Tak seperti biasanya” kataku mengutarakan apa yang ada
difikiranku
Lagi-lagi Sherli hanya
menggeleng dan menunduk. Kurasa ia menangis lagi. Kubiarkan ia sendiri bersama
air matanya. Aku tak mengerti berapa berartinya seorang guru baginya.
***i
Masih dibawah kaki langit jingga, Hari ini
genap dua minggu aku tak melihat gadis di bawah langit senja itu lagi. Ya,
Sherli sudah dua minggu tak masuk sekolah semenjak ia tak mengerjakan tugas dan
guru kimia tak sudi mengajar kami lagi. Sepi rasanya tak ada omelan si mata
empat itu. Aku merindukan pipinya yang tirus dibasahi air mata penyesalan
pertanda ia sangat memperhatikan kondisi kami. Dan kelas semakin abstrak tak
ada yang memarahi anak-anak yang jahil. Oh Sherli, dimanakah dirimu sekarang?
Kami sangat membutuhkanmu.
Beberapa waktu lalu kami pernah mencari
tempat kediaman Sherli. namun pencarian itu tak membuahkan hasil. Semua teman
tak ada yang mengetahui. Aku sendiri yang teman sebangkunya tidak tau. Aku tak
begitu peduli dengannya sampai akhirnya aku sadari ia sangat berarti. Aku
kehilanganmu Sher. Kami kehilanganmu
Kami juga sudah mencoba memuatnya disurat
kabar dan menempelkan selebaran di seluruh penjuru kota. Ada apa sebenarnya
dengannya? Aku tak bisa terlelap akan hilangnya Sherli di kehidupanku juga
dikehidupan semua orang yang menyayanginya.
“kkkrrrriiiiiinnngggg.............” ponsel siapa itu, batinku
“kkkrrrriiiiiiiiinnngggg..........” Oh Sial! Ternyata ponselku. Siapa
yang merubah nada deringnya? Batinku geram
“Assalamualaikum..” sapaku ramah pada nomor tak dikenal yang terpampang
di layar ponselku
“Walaikumsalam, maaf ini dengan Vikra?” jawab seseorang disebrang sana
lirih
“Iya....”
“Vik, ini aku Ayu. Sherli sedang sekarat di Rumah Sakit. Kamu harus
segera kesini. Sherli kritis” percakapan singkat namun sangat berarti bagiku.
Tanpa membuang waktu aku segera menuju ke Rumah Sakit
***i
“Ada apa dengan Sherli?” kataku spontan sambil membukakan pintu. Ayu
dan Fany melirik kearahku berbarengan
“Sherli Vik....” Ayu memelukku. Kurasakan pundakku basah
“kenapa Sherli Yu?” aku melepaskan dan menatap mata Ayu lembut
“Sherli... Sherli....” kata Ayu dibarengi isakan
“Sherli kanker otakVik...” Fany menimpali. Ayu menangis, air matakupun
tak terbendung.
“Apa? Sejak kapan?”
“entahlah, tapi menurut keterangan dokter penyakit Sherli sudah akut”
Aku terduduk kaku dilantai rumah sakit. Daguku mendongak keatas dimana
Sherli terbaring lemah. Perlahan aku memegang tangan Sherli yang mungil.
Mencoba membendung air mataku namun sia-sia.
“Lalu, apa penyakit Sherli bisa disembuhkan?” tanyaku lirih. Mereka
menggeleng
“Operasi?” aku mengusulkan
“sudah terlambat Vik, kita baru menemukan Sherli disini beberapa menit
lalu dan kata dokter.. waktu Sherli tak akan lama lagi” jelas Fany
Tangis Ayu semakin kuat ketika Fany selesai menjelaskan. Aku mengontrol
emosiku. Rasa penyesalan yang besar tumbuh pesat didadaku. Aku selalu menjahili
Sherli bila sedang disekolah dan mengolok-oloknya namun Sherli tak pernah
membalasnya sekalipun. Walau aku melakukannya demi kesenangan tetap saja Sherli
pernah terluka karena ucapanku. Belum lagi bila aku teringat kemarin lusa pada
saat sore hari.
Kurasakan gerakan tangan yang menggenggam jemariku. Aku terbangun dari
duduk dan menghampiri tempat tidur
“Sher, kamu sadar....” kataku dengan tenang disusul Ayu dan Fany
menghampiri
“guys, di akhir hidupku ini
boleh aku mengajukan permintaan?” kata Sherli dengan suaranya yang parau
“Sher, kamu tidak boleh bicara seperti itu. Kamu harus optimis kamu
akan sembuh. Mana Sherliku yang selalu tetap semangat? Semangat dikala aku
sudah tak ingin belajar. Mana kata-kata petuahmu Sher?” suaraku bergetar
menahan tangisan
“Vik, aku juga ingin sekolah lagi. Tapi waktuku sudah hampir habis Vik”
ucapan Sherli membuat kami terdiam seketika
“Baiklah.. apa permintaanmu?” kataku tegas. Kedua temanku memelototiku
heran karena berhenti memotivasi Sherli untuk semangat sembuh. Aku mengangguk
pelan. Mereka mengerti dengan isyaratku
“Aku ingin kalian tak mengulangi perbuatan konyol yang tak disukai guru
yang akan membuat mereka kecewa” Ayu menangis cukup keras di pundak Fany
“Dan untuk Vikra, aku ingin kamu meneruskan perjuanganku untuk menjadi
aktivis kelas. Aku tau kamu sangat tak berkeinginan, namun kali ini aku mohon
Vik. Aku yakin kamu pasti bisa!” sambung Sherli penuh semangat. Ayu dan Fany
berhambur keluar karena tidak kuat menghadapi kepiluan. Aku hanya bisa terpekur
mendengar permintaan Sherli yang memang cukup gila bagiku. Aku seorang pemalas
apakah bisa menjadi seorang aktivis?
“Aku yakin kamu pasti bisa!” ucap Sherli sekali lagi seakan mengetahui
apa yang aku fikirkan.
“Dan satu lagi, aku punya cita-cita Vik. Cita-citaku adalah menjadi
seorang guru. Kamu mau mewujudkan cita-citaku menjadi guru?” aku melepaskan
genggaman tangan Sherli.
“Apapun akan kulakukan Sher, tapi jagan soal cita-cita. Ini urusan masa
depanku. Kamu tau kan aku sangat terobsesi menjadi bintang Rock dimasa yang
akan datang nanti. Atau menjadi seorang Direktur perusahaaan?” Aku
menggelengkan kepala
“Vik.. ku mohon...” Sherli dengan nafasnya yang mulai terputus-putus.
Aku merasa kasihan dengannya. Tapi.... Aku melihat kearah jendela. Ayu dengan
yakin memerintahku untuk menganggukan kepala.
“Baiklah Sher... aku akan mewujudkan apa yang menjadi cita-citamu”
Sherli tersenyum puas bahagia.
“Vik, yasudah ya. Aku mau tidur dulu. Nanti setelah aku bangun aku
ingin melihatmu menjadi seorang guru yang sukses” Sherli tersenyum kecil
kemudian menutupkan matanya dan menghentikan nafasnya. Ayu dan Fany berteriak
histeris, aku yang berusaha tenang hanya meneteskan air mata dan merasakan
kepedihan tentunya lebih dari yang mereka rasakan.
***i
Pagi ini sepi seperti dua minggu lalu sejak Sherli tak masuk sekolah.
Sekolah benar-benar sedang berkabung dengan kepergian aktifis kelasku yang
sangat aktif itu.jam pertama dan kedua pelajaran tak berlangsung karena ada
rapat. Aku lebih memilih pulang untuk menenangkan diri.
“Vikra... kenapa jam segini kamu sudah pulang?” Suara parau terdengar
ketika aku menginjakan kaki di gerbang. Menerawang kesekeliling, tak ada
satupun manusia kutemui. Akupun melangkah pasti menuju rumah.
Sepanjang jalan pulang selalu saja ada kenangan manis terbesit di
sepanjang jalan ini.lihat saja caffe disana. Terbayang ketika aku meninggalkan
Sherli sendiri dan membayar apa yang aku makan. Aku hapal betul ekspresi
wajahnya ketika itu. Panik dan kebingungan. Sedangkan aku terkekeh-kekeh
melihatnya. Teman macam apa aku ini? Sherli, kumohon maafkan aku.
“Vikra... mengapa sudah sampai rumah jam segini?” Lagi, suara parau itu
menyeruak ketika aku membuka gerbang rumah. Aku celingak-celinguk melihat
sekelilingku. Nihil! Tak kutemukan lagi sumber suara itu
Awalnya suara itu hanya halusinasiku disekolah tadi. Karena aku memang
sedang melamun. Tapi kali ini aku benar-benar tidak sedang melamun.
Dijejakkannya kakiku kesetiap anak tangga menuju kamar.
“Vikra.. kenapa kamu pulang? Mengapa jam segini sudah sampai rumah?”
aku mendapati lagi suara itu ketika aku membukakan pintu kamar
“Siapa disana?” Aku setengah berteriak
“Vikra....” Suara parau itu lagi
“Siapa disana? Keluar kalau berani!” kali ini aku mulai takut
“Mana janjimu....?”
“Janji apa? Siapa kau?” kataku berteriak sambil berputar mencari sumber
suara
“Sherli....??” mulutku menganga mendapati sosok itu dikasur tidurku.
Sherli tersenyum ramah dan mulai menghampiriku. Aku melihat kebawah
mengontrol apakah kakinya menginjak lantai atau tidak. Ternyata TIDAK!
“Sher.. kamu mau apa dariku?” Aku gugup dan melangkah mundur
“ayo kembali kesekolah Vik, kalau tak ada kamu siapa yang akan mengurus
kelas. Kamu telah berjanji kepadaku bukan?” kata Sherli diiringi dengan suara
yang lembut. Dan badannya semakin mendekatiku. Aku semakkin mundur hingga
keluar dari kamar
“Iya Sher.. Aku tau. Aku sedang tidak enak badan. Sher kumohon jangan
ganggu aku”
“Vikra... Vikra.. penuhi janjimu..” Sherli semakin mendekatiku dengan
senyuman terpucat yang pernah aku lihat
“Tidak Sher.. Tidakk.....” Aku terjatuh dari tangga dan menggelinding
“buuukkk.....” mataku perlahan terbuka. Kamar? Bukannya tadi aku jatuh
di tangga dan seharusnya sekarang aku ada diruang tamu. Aku melihat kesamping
kanan. Tempat tidurku. Ffyyyuuuuhhh..... ternyata hanya mimpi! Aku berjanji
untuk memenuhi apa yang engkau inginkan Sher, tenanglah kau dialam sana.
***
“Selamat pagi anak-anak....” Suara bu Sonya yang khas sudah menggelegar
ditelingaku yang masih berada dikoridor. Berjarak dua kelas dari kelasku.
“Asalamualaikum, Bu....” aku mengetuk pintu
“Vikra... tidak ada kapok-kapoknya kamu selalu kesiangan!” Kata Bu
sonya
“Maaf bu, tadi saya... emmm.. itu tadi ada...”
“Sudah... sudah... kamu tunggu saja pelajaran saja hingga usai”
“Yah.. ibu, izinkan saya masuk Bu”
“Yang jadi guru siapa?” Bu sonya membentak
“Ibu...”
“Yang Jadi murid?”
“Saya...”
“Saya...”
“Lantas, tunggu apa lagi?”
“Ibu tidak menanyakan siapa kepala sekolah?” tanyaku polos. Disambut
tawa teman-teman yang lainnya
“Untuk apa ibu menanyakan itu?”
“Oh.. Syukurlah. Saya juga tidak tau siapa nama kepsek disini” jawabku
enteng
“Vikra...!!!!” Bu Sonya kali ini benar-benar membentak. Spontan aku
langsung ngacir ke warung gorengan mang Ujang.
“Dihukum lagi ya neng...??” Mang ujang menyambutku
Aku hanya mengangguk dan mengambil gorengan yang sudah berjejer
menunggu tanganku memilih.
Untuk mengisi kejenuhan menunggu pelajaran usai aku memutar beberapa
lagu kesukaanku di handphoneku yang tercinta ini.
“Vik, bu Sonya sudah keluar.
Cepat masuk sebelum guru lain masuk” pesan dari Fany hinggap dilayar kaca
handphoneku setelah aku menghabiskan banyak gorengan mang Ujang. Akupun
menurutinya
Setelah beraa dikelas dan berkumpul dengan teman-temanku, Ayu dan Fany
bercerita padaku bahwa mereka juga kedatangan Sherli dalam mimpi. Aku
benar-benar merinding dibuatnya. Oh Tuhan... apakah ini karma kami karena
selalu mengusik Sherli ketika ia masih ada?? Ampuni kami Tuhan.
***i
“Aku rasa kita harus menepati janji kita menjadi aktifis kelas dan
menutup mulut-mulut nakal teman-teman” Kata Fany disela-sela waktu istirahat
“Kita gak harus jadi lemah lembut kaya Sherli kan?” Kataku protes
“kurasa sepertinya begitu Vik...”
“Fan, jadi aktifis gak harus bearti lemah lembut kan Fan? Aku ini
Rocker, aku gak bisa seperti itu. Hancurlah imageku yg kutata selama ini”
“Iya Fan, aku setuju sama Vikra” Ayu mendukung
“Baiklah, terserah kalian saja yang penting kita harus menepati janji
kita” Kata Fany mengalah, disambut dengan anggukan dari kami
Pllluuukk, hantaman keras botol minuman menimpa kepalaku
“Hey! Kurang ngajar kau” Aku membentak lelaki yang melempar botol itu
sambil memegangi kepalaku
“Maaf.. maaf.. aku tidak sengaja” lelaki itu mengampiriku
“Maaf??” Kataku, lalu mengambil botol tadi yang tidak jauh dari
tempatku berada
“Nih.. baru maaf!” Aku memukulnya dengan keras dengan botol itu
“Aw...” lelaki itu meringis
“Impas kan?” Aku berlalu meninggalkannya yg masih kesakitan
Saat aku duduk
dibangku kelasku, aku tidak mendapati Ayu dan Fany mengikutiku. Tidak seperti
biasanya, Fany dan Ayu selalu mengikuti kemanapun aku pergi bila sedang berada
disekolah. Lalu aku memutuskan ketempat tadi. Benar saja, mereka disana masih
dengan lelaki tadi yang melempar botol kekepalaku.
Aku mendekat mereka, tadinya aku ingin sekali menjambak rambut kedua
temanku yang panjang itu. Namun setelah aku mendekat dan mendengar isi
pembicaraan mereka niatku terhenti. Aku bersembunyi di tiang koridor menguping
apa yang mereka bicarakan. Samar-samar ku dengar Ayu sedang menceramahi lelaki
yg tak kuketahui identitasnya. Aku rasa temanya adalah kebersihan. Karena
mereka terus mengulang kata itu, apakah karena botol minuman tadi? Tak biasanya
Ayu dan Fany bersikap seperti itu, mereka sama acuhnya denganku bila berbicara
tentang lingkungan.
“tumben tadi kalian bicara layaknya ustad yang sedang ceramah pada
jemaahnya” Sindirku
“Maksud kamu sama Gery?” Timpal Fany. Oh jadi lelaki tadi bernama Gery,
batinku
“Emang seharusnya kita seperti itu kan? Saling mengingatkan” Sambung
Ayu
“Ahh.. lama-lama kalian jadi kaya Sherly” Kataku lagi
“Kita kan harus menjalankan wasiat dari Sherly Vik, kamu lupa ya?”
Aku hanya menggaruk kepalaku yang tidak gatal.
Walaupun kau sudah tiada, tapi wasiatmu akan selalu kami ingat Sher.
Semoga kau tenang disna.
Komentar
Posting Komentar